jump to navigation

Soft Rice : Beginning of Tests 7 Maret 2010

Posted by thl4all in Artikel THL TBPP.
add a comment
The CRRI obtained Aghonibora from the Titabar Regional Research Station in Assam and experiments at the institute in Orissa began in 2008. The results were encouraging. Aghonibora, had an extremely low amylose (a starch that gives rice its hardness) content. That makes the grains so very soft and gives it the amazing quality of being ready-to-eat simply after soaking in water for 45 minutes at room temperature. When the water is lukewarm it takes 15 minutes. Adhya said that normal rice has 20 to 25 per cent amylose while that in soft rice is 4.5 per cent. Experiments in Cuttack showed that Aghonibora is also a variety that does not crave for extra expenditure or special treatment. It takes about 145 days to mature whereas normal rice varieties make their farmers wait three to six months. Aghonibora yields 4.5 tonnes per hectare (ha), much higher than the average 2.2 tonnes per ha for the country and 1.7 tonnes per ha for Orissa. (lebih…)

Soft Rice From India 6 Maret 2010

Posted by thl4all in Artikel THL TBPP.
add a comment
soaked in water, the parboiled rice grains expanded, softened and were ready to eat, surprisingly. Sharma had heard about rice that can be eaten without cooking but for the first time he saw it happen in front of his eyes.
There is not much that differentiates an Aghonibora soft rice grain from other rice varieties that grow in India. With a similar grain length and breadth of 5.85 and 2.12 mm, the plant grows 90 cm tall. The parboiled Aghonibora rice grains are yellowish in colour, too. Each grain is 7.65 per cent protein-rich, just like other rice varieties. But the similarity ends here. It makes for a dish of rice that need not be cooked.
Srigopal Sharma, chief scientist at the Central Rice Research Institute (crri) in Cuttack, makes a living by peering at the rice specimens lying in his office which also serves as his laboratory.
Some days he takes a walk in the sprawling rice fields of the experimental plots in the institute. These days he spends his entire time working with Aghonibora, the variety named after aghoni— the months of November, December when it is harvested .
Aghonibora has been grown in Assam for quite some time. During a trip to Arunachal Pradesh in 2007, Sharma made a stopover in a village in the Shonitpur district of Assam. Aghonibora is used as a breakfast cereal there. In fact, a farmer offered him some but its quality was not so good. However, seeing that it did not require any cooking got Sharma thinking about its prospects in Orissa.
“We decided to test the feasibility of growing rice in the hot and humid climate of Orissa, “ said CRRI’s director T K Adhya. The temperature during the grain filling period varies between 16 and 18°C in Assam whereas in Orissa it is between 25 to 28°C. The humidity in Orissa is high—around 70 to 75 per cent. So the real challenge was to see whether it could be grown in these conditions.

KEHIDUPAN LEBAH MADU YANG MENAKJUBKAN 1 Maret 2010

Posted by thl4all in Inspirasi.
1 comment so far
Lebah adalah serangga mungil yang tidak mampu berpikir. Akan tetapi mereka mampu menyelesaikan sejumlah pekerjaan besar yang tak terbayangkan sebelumnya. Setiap pekerjaan tersebut membutuhkan perhitungan dan perencanaan khusus. Sungguh mengagumkan bahwa kecerdasan dan keahlian yang demikian ini ada pada setiap ekor lebah. Namun, yang lebih hebat lagi adalah ribuan lebah bekerjasama secara teratur dan terencana dalam rangka mencapai satu tujuan yang sama, dan mereka melaksanakan bagian pekerjaan mereka masing-masing secara penuh dan sungguh-sungguh tanpa kesalahan sedikitpun.
Kesulitan terbesar dalam pengorganisasian sekelompok orang untuk bekerja secara bersama adalah penyiapan jadwal kerja serta pembagian tugas dan tanggung jawab. Dalam sebuah pabrik, misalnya, terdapat struktur jabatan yang rapi di mana para pekerja melapor pada mandor, para mandor melapor pada insinyur, para insinyur melapor pada manajer pelaksana dan para manajer pelaksana melapor pada manajer umum. Pengoperasian pabrik yang efisien memerlukan banyak tenaga kerja dan dana; pembuatan rencana jangka panjang dan pendek; serta pengumpulan data statistik. Produksi dilakukan berdasarkan rencana produksi yang telah disiapkan sebelumnya, dan pengawasan kualitas dilakukan di setiap tahapannya. Setiap insinyur, manajer dan manajer pelaksana memperoleh pendidikan dan pelatihan khusus dalam jangka waktu tertentu sebelum ditempatkan pada posisi mereka masing-masing.
Akan tetapi, setelah segala persyaratan ini dipenuhi dan sistem organisasinya telah terbentuk, hanya beberapa ratus tenaga kerja saja yang mampu bekerja bersama secara harmonis.
Demikianlah, pembentukan kerja sama di antara beberapa ratus manusia cerdas dengan gagasan mereka masing-masing memerlukan perencanaan yang rumit dan biaya mahal. Namun, puluhan ribu lebah mampu membangun sistem organisasi sempurna yang tak tertandingi oleh masyarakat manusia.
Tidak seperti manusia, lebah tidak mendapatkan pendidikan atau pelatihan apapun. Begitu lebah lahir, ia dengan segera melaksanakan tugas yang dibebankan padanya.
Karyawan pabrik bekerja untuk mendapatkan gaji pada akhir bulan. Sementara itu, seekor lebah tidak memperoleh keuntungan pribadi dari pekerjaan yang ia lakukan. Pekerjaan yang dilakukan karyawan pabrik, baik sebagai pekerja biasa ataupun manajer pelaksana, terbatas hanya pada jam kerja tertentu dan mereka berhak mendapatkan masa liburan. Sebaliknya, lebah bekerja sepanjang hidup, tanpa istirahat, demi kepentingan dan kebaikan sesamanya.
Rata-rata, sekitar 60-70 ribu lebah hidup dalam sebuah sarang. Walaupun populasi yang demikian padat, lebah mampu melakukan pekerjaannya secara terencana dan teratur rapi.
Suatu koloni lebah umumnya terdiri dari lebah pekerja, pejantan dan ratu. Lebah pekerja boleh dikata mengerjakan seluruh tugas dalam sarang. Sejak saat dilahirkan, para lebah pekerja langsung mulai bekerja, dan selama hidup, mereka melakukan berbagai tugas yang berganti-ganti sesuai dengan proses perkembangan yang terjadi dalam tubuh mereka. Mereka menghabiskan tiga hari pertama dalam hidup mereka dengan membersihkan sarang.
Kebersihan sarang sangatlah penting bagi kesehatan lebah dan larva dalam koloni. Lebah pekerja membuang seluruh bahan berlebih yang ada dalam sarang. Saat bertemu serangga penyusup yang tak mampu mereka keluarkan dari sarang, mereka pertama-tama membunuhnya. Kemudian mereka membungkusnya dengan cara menyerupai pembalseman mayat. Yang menarik di sini adalah dalam pengawetan ini lebah menggunakan bahan khusus yang disebut “propolis”. Propolis adalah suatu bahan istimewa karena sifatnya yang anti bakteri sehingga sangat baik digunakan sebagai pengawet.
Bagaimana lebah tahu bahan ini adalah yang terbaik sebagai pengawet, dan bagaimana mereka mampu menghasilkannya dalam tubuh mereka ?
Propolis adalah bahan yang hanya dapat dihasilkan dalam kondisi laboratorium dengan teknologi dan tingkat pengetahuan ilmu kimia yang cukup tinggi. Nyata bahwa lebah sama sekali tidak mempunyai pengetahuan tentang ini, apalagi laboratorium dalam tubuhnya.
Lebih jauh lagi, lebah pekerja bertanggung jawab memeriksa sel–sel yang akan digunakan sang ratu untuk meletakkan telurnya. Selain itu, lebah pekerja juga bertugas mengumpulkan kotoran yang ada dalam sel-sel yang telah ditinggalkan oleh para larva yang telah lahir, serta membersihkan sel penyimpan makanan. Lebah–lebah tersebut juga mengatur kelembaban dan temperatur di dalam sarang, jika dibutuhkan, dengan kipasan angin melalui kepakan sayap mereka pada pintu masuk sarang.
Penting untuk diketahui bahwa seluruh tugas yang membutuhkan spesialisasi ini dilakukan oleh lebah pekerja berumur 3 hari yang bertanggung jawab dalam kebersihan.
Lebah pekerja menghabiskan waktunya setelah 3 hari pertama tersebut dengan merawat para larva. Saat mereka menjadi lebih dewasa, beberapa kelenjar sekresi dalam tubuh mereka mulai berfungsi; ini memungkinkan mereka untuk merawat larva. Seluruh tugas yang berhubungan dengan perawatan larva ini dikerjakan oleh lebah pekerja yamg berumur 3 sampai 10 hari. Mereka memberi makan sebagian larva dengan royal jelly, dan sebagian lagi dengan campuran madu-serbuk sari. Mahluk hidup yang baru lahir ini telah mengetahui tugas yang menjadi tanggung jawabnya dan memiliki pengetahuan untuk mengerjakannya dengan cara yang sangat profesional.
Sang lebah berganti tugas saat ia tumbuh lebih dewasa. Ketika mencapai hari ke 10 dari masa hidupnya, kelenjar penghasil lilin dalam perut lebah pekerja mendadak telah matang sehingga ia mampu menghasilkan lilin. Pada saat itulah seekor lebah menjadi pekerja pembangun sel-sel penyimpan madu dengan menggunakan lilin.
Fenomena ini memunculkan banyak pertanyaan. Bagaimana mungkin seekor makhluk hidup yang baru saja lahir, dan, lebih dari itu, yang tidak memiliki kecerdasan dan pengetahuan ini benar-benar memahami seluruh tugas yang menjadi tanggung jawabnya? Bagaimana tubuh seekor hewan tiba–tiba dapat teradaptasikan untuk merawat dan memberi makan larva dengan berfungsinya beberapa kelenjar sekresi, padahal sesaat sebelumnya ia terprogram untuk melakukan tugas kebersihan? Bagaimana seekor lebah, yang 4 atau 5 hari sebelumnya adalah larva, dapat berpikir dan merencanakan segala tugasnya tersebut? Bagaimana tubuhnya dapat dengan tiba–tiba menghasilkan lilin dan berubah menjadi pekerja konstruksi? Padahal konstruksi bangunan ini didasarkan pada penghitungan rumit dan sangat tepat, yang tak akan mampu dilakukan oleh manusia sekalipun.
Tidak ada keraguan, tidaklah mungkin lebah itu sendiri yang melakukan perhitungan berdasarkan kecerdasannya sendiri. Begitulah, ini adalah bukti nyata bahwa setiap fase dalam hidupnya, lebah tunduk pada hikmah dan kekuasaan Penciptanya. Lebah menjalani setiap saat dalam hidupnya dengan ilham yang diberikan oleh Allah, Pencipta Yang Mahaperkasa. (source: HarunYahya)

KTNA Kirim Surat Ke Presiden Untuk Status Penyuluh Kontrak 23 Februari 2010

Posted by thl4all in Artikel THL TBPP, FK THL NASIONAL.
add a comment

Ketua Umum Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Nasional Ir. Winarno Tohir mengungkapkan sebagai bentuk dukungan KTNA terhadap THL-TBPP, KTNA akan membuat surat yang akan menyuarakan pemikiran THL-TBPP kepada Presiden. “Kita menyuarakan aspirasi petani THL-TBPP ini agar didengar oleh pihak legislatif dan eksekutif ”, tutur Winarno.
Sedangkan para Tenaga Harian Lepas-Tenaga Bantu Penyuluh Pertanian (THL-TBPP) menginginkan kepastian status kerja setelah masa kontrak kerja mereka habis.
Hal tersebut disampaikan oleh Dedy Alfian, Ketua Forum Komunikasi Tenaga Harian Lepas Tenaga Bantu Penyuluh Pertanian (FK THL-TBPP) Nasional, saat ditemui di acara dialog antara KTNA dengan THL-TBPP di aula Yampi, Jakarta. “Kami mengharapkan adanya solusi dari pemerintah agar keberadaan dan status THL-TBPP ini dapat diberlangsungkan secara berkelanjutan dan definitif”, ujar Dedy.
Selain itu para THL-TBPP juga mengharapkan agar pemerintah lebih serius membahas kepastian status THL-TBPP ini dengan memberikan perlakuan khusus terhadap permasalahan THL-TBPP ini.
(Source: sinartani.com)

Perjuangan THL TBPP 14 Februari 2010

Posted by thl4all in FK THL NASIONAL.
add a comment

Kepada yg terhormat
THL-TBPP Se-Indonesia
di tempat

Puji syukur kehadirat Sang Maha Kuasa atas limpahan karunia yang di berikan untuk kita semua. Terima kasih kepada semua THL-TBPP se-Indonesia dan yang mendukung perjuangan kita selama ini atas doa dan dukungannya perjuangan ini selalu mendapat tempat dan tetap semangat.
Alhamdulillah perjuangan yang berliku-liku selama ini yang kita upayakan pada akhirnya mulai membuahkan hasil dimana klausul THL-TBPP di akomodir dalam Penyelesaian Tenaga Honorer di Panitia Kerja (Panja) gabungan Komisi II, VIII dan khususnya pada komisi X DPR-RI yang khusus untuk menangani penyelesaian Tenaga Pendidik dan Penyuluh Pertanian. Berbagai upaya yang sudah FK THL-TBPP Nasional bersama FK THL-TBPP Provinsi se-Indonesia lakukan ada kemajuan dari tidak ada menjadi ada dalam Panja, dari ranking prioritas mulai semakin naik yang sebelumnya THL-TBPP akan diselesaikan dengan memperhitungkan analisa kebutuhan instansi (Matrik Data hasil rapat Panja 4 Februari 2010). Selanjutnya hasil perkembangan sementara (Kamis, 11 Februari 2010) di Panja Komisi X DPR-RI, penyelesaian untuk THL-TBPP ditest sesama tenaga honorer dengan Peraturan Pemerintah (PP) baru. Insya Allah masih ada peluang untuk mengusahakannya lagi karena proses di Panja masih berlanjut sampai akhir bulan ini, untuk itu kami tetap berharap kepada semua THL-TBPP tetap dalam kerangka mendukung dan mendoakan. Semoga dengan adanya peluang dan kesempatan ini yang sedang kita ikhtiarkan slalu diberikan kemudahan. Kami di FK THL-TBPP Nasional bersama FK THL-TBPP Provinsi se-Indonesia akan terus mengawal dan berupaya. Insya Allah semoga menjadi lebih baik lagi.

KAMI BANGGA KEPADA ANDA, PARA PENDEKAR THL-TBPP 13 Februari 2010

Posted by thl4all in Opini THL TBPP.
add a comment
Bulan-bulan ini, Januari dan Pebruari 2010, para Tenaga Harian Lepas – Tenaga Bantu Penyuluh Pertanian (THL-TBPP) tetap sibuk dengan tugas-tugas rutin melakukan pendampingan pada Kelompok Tani (Poktan) dan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) binaannya. Lho, bukankah kontrak kerja mereka hanya sampai akhir Nopember 2009 dan akan diperbaharui dengan kontrak kerja baru per 1 Maret hingga 31 Desember 2010? Sebagian dari teman-teman ini, seperti di Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur mendapatkan honor dari Pemda untuk “bulan-bulan non kontrak Pusat yaitu Januari dan Desember 2009”. Tetapi tidak semua Pemerintah Kabupaten/Kota memberi perlakuan demikian, dus tidak semua teman-teman THL-TBPP se-Indonesia mendapatkan honor dari Pemda masing-masing pada “bulan-bulan non kontrak Pusat”. Teman-teman ini berpandangan, bulan-bulan Desember, Januari dan Pebruari adalah bulan-bulan sibuk petani menghadapi musim tanam padi. Mereka rupanya tidak tega meninggalkan petani di saat-saat paling membutuhkan pendampingan. Demikian juga pada bulan Desember 2009, Januari dan Pebruari 2010. Meski bulan-bulan ini bukan bulan kontrak Pusat, teman-teman THL-TBPP tetap setia dengan tugas “ekstra” mendampingi petani, tanpa terlalu memikirkan apakah nanti akan mendapatkan honor dari Pemda seperti tahun lalu atau tidak.
      Dalam minggu-minggu ini, sebagian dari mereka dalam kapasitas sebagai utusan dari berbagai daerah dan tergabung dalam Forum Komunikasi (FK) THL-TBPP Nasional berangkat ke Jakarta untuk sebuah kepentingan besar. Kita sebut kepentingan besar, karena tujuannya melampaui kepentingannya sendiri. Mungkin sudah berminggu-minggu teman-teman kita ini di sana. Mereka sekelompok THL-TBPP, yang tidak berhitung hanya untuk kepentingan diri sendiri. Mereka melakukan lobi-lobi kepada para wakil rakyat dan para pejabat pusat terkait. Ini semua butuh biaya operasional, paling tidak untuk makan, transportasi dan penginapan. Mereka ke Jakarta pada bulan-bulan non kontrak alias saat-saat tidak mendapat honor. Sungguh mereka adalah pendekar-pendekar gigih, yang berjuang demi visi jauh ke depan.
      Apa tujuan besar itu? Apa yang diinginkan sekelompok THL-TBPP ini? Mereka ke Jakarta membawa misi THL-TBPP se-Indonesia, yaitu berjuang demi terbitnya Peraturan Pemerintah yang mengakomodir para THL-TBPP untuk diangkat secara khusus menjadi PNS. Jika dilihat secara sepintas ini seperti kepentingan para THL-TBPP sendiri. Memang ya, tapi dalam pengertian agar para petugas ini lebih optimal lagi dalam menyalurkan pengabdiannya dengan status yang jelas (PNS). Lebih jauh lagi, perjuangan teman-teman ini sebenarnya adalah bentuk pengawalan yang konkret atas tekad Pemerintah sendiri di awal periode 2004-2009 yang akan mengkondisikan komposisi 1 penyuluh : 1 desa dan 1 desa : 1 penyuluh. Ini adalah bentuk kesadaran yang tinggi bahwa eksistensi penyuluh pertanian dan segala kiprahnya merupakan salah satu pilar kesuksesan pembangunan pertanian Indonesia.
      Ya, kita menyadari betul bahwa bobot dan urgensi sektor pertanian, sekurang-kurangnya setara dengan pendidikan dan kesehatan, dalam konteks kepentingan nasional. Jangan bicara pendidikan dan kesehatan jika perut lapar. Begitulah kira-kira sederhananya. Karena itu sudah sepatutnya jika kita terus mendorong agar penetapan skala prioritas pembangunan pertanian setara dengan kedua bidang yang disebut terakhir. Apalagi beban sektor pertanian ke depan akan semakin berat. Nah, apa yang sedang teman-teman kita perjuangkan saat ini adalah dalam kerangka pembangunan pertanian sebagaimana telah dirancang oleh Pemerintah sendiri, yakni agar revitalisasi penyuluh pertanian dapat terwujud dan seiring sejalan dengan 6 (enam) gema revitalisasi pertanian yang lain. (Sebagai catatan, Kementerian Pertanian RI mencanangkan program 7 (tujuh) gema revitalisasi).
      Ada berita lain yang cukup menggembirakan dan menambah semangat kita untuk terus berjuang. Pada saat peresmian secara simbolis 354 Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) di Desa Kalianyar, Kecamatan Panguragan, Kabupaten Cirebon Sabtu, 6 Pebruari 2010 Menteri Pertanian Suswono menyatakan pemerintah berencana mengangkat petugas THL-TBPP menjadi PNS. Kita patut berprasangka baik pada kehendak mulia ini dan berharap agar pernyataan Bapak Menteri di atas bukan sekedar pernyataan yang menghibur. Kita wajib mengawal rencana tersebut secara sistematis dan terkoordinasi dengan baik, agar secepatnya keluar kebijakan konkret dalam bentuk peraturan resmi yang mengatur proses peralihan status THL-TBPP menjadi PNS. 
      Karena itu, kepada teman-teman THL-TBPP se-Indonesia, marilah kita berikan dukungan penuh kepada Pendekar-Pendekar kita ini agar mereka terus berjuang hingga tujuan tercapai. Sekali lagi, HINGGA TUJUAN TERCAPAI! Mari kita yakinkan diri kita semua bahwa perjuangan ini berada pada jalur yang benar, yakni demi eksistensi dan kebangkitan dunia pertanian Indonesia. Manakala kita tidak dapat bergabung dengan teman-teman yang gigih dan kita banggakan bersama di Senayan Jakarta, marilah kita sungguh –sungguh menggalang do’a, do’a bersama yang terbit dari setiap hati THL-TBPP yang penuh harap, dengan jiwa yang khusyuk agar perjuangan teman-teman ini membawa hasil gemilang. MAJU TERUS THL-TBPP! 
(kontributor :Ir. Nur Samsu, THL-TBPP 2008 BPP Paiton – Kabupaten Probolinggo untuk http://thl-tbpp.blogspot.com/)

Call Center Database THL TBPP 5 Februari 2010

Posted by thl4all in FK THL NASIONAL.
add a comment
Tim Tabulasi Data THL TBPP di Jakarta terus melakukan tabulasi database yang telah dikirimkan oleh kawan-kawan FK THL Kabupaten se-Indonesia. Mengingat PENTINGnya database THL TBPP ini maka pastikan database yang kawan-kawan kirimkan telah sampai ke meja Tim Tabulasi, Silakan hubungi Call center Database THL TBPP di:
  • 081 281 030 849

 THL TBPP, Bisa !!!

URGENT: PERMINTAAN DATA BASE THL 3 Februari 2010

Posted by thl4all in FK THL NASIONAL.
add a comment
Untuk mendukung kelengkapan data THL TBPP seluruh Indonesia dalam Rakornas THL TBPP se-Indonesia dan serangkaian kegiatan perjuangan FK THL TBPP Nasional beserta FK THL TBPP Provinsi se-Indonesia di Jakarta saat ini maka FK THL TBPP Nasional menginstruksikan kepada seluruh FK THL TBPP KABUPATEN/ KOTA untuk segera mengirimkan DATA BASE THL TBPP di kabupaten/Kota saudara dengan FORM/BLANGKO yang bisa didownload DISINI kepada FK THL TBPP Nasional dengan E-Mail di: fk_thltbppnas@yahoo.co.id paling lambat hari Jumat, tanggal 5 Februari 2010 pukul 16.00 WIB.Mengingat SANGAT PENTINGnya Database tersebut, dimohon kepada seluruh FK THL TBPP Kabupaten se-Indonesia untuk tepat waktu dalam mengirimkan data.
Atas perhatian dan Kerjasamanya, Kami ucapkan terima kasih

Ketua
FK THL TBPP Nasional

DEDY ALFIAN

Taman Organik dan Kios Organik Mandiri 1 Februari 2010

Posted by thl4all in Artikel THL TBPP, Budidaya Organik.
add a comment

THL TBPP, BISA!! Sebuah ide kreatif dan bermanfaat tercurah dari kawan-kawan THL TBPP kabupaten Tulungagung dalam Taman Organik dan Kios Organik Mandiri. Pendirian Taman Organik bersama dengan pembukaan KIOS ORGANIK MANDIRI bertujuan antara lain: 

  • Memperkenalkan Taman Organik sebagai lahan percontohan pertanian ramah lingkungan kepada masyarakat Tulungagung pada khususnya dan praktisi pertanian pada umumnya. 
  • Memperkenalkan Kios Organik ”MANDIRI”sebagai tempat pemasaran produk-produk organik kepada masyarakat Tulungagung pada umumnya dan produsen serta konsumen produk organik khususnya. 
  • Wahana transformasi ilmu pengetahuan dan teknologi pertanian organik. Wahana karya wisata dan rekreasi/outbond pertanian organik bagi anak usia sekolah maupun masyarakat umum yang ingin menambah pengetahuan tentang pertanian organik.  
Hal lain adalah kita ingin mewujudkan Program Go Organik 2010 yang dicanangkan oleh Departemen Pertanian RI. Kenyataan  di lapang menunjukkan bahwa pertanian non organik/konvensional pada prakteknya berlebih didalam menggunakan pestisida dan pupuk kimia yang pada akhirnya meninggalkan residu kimia yang berbahaya bagi kesehatan manusia. Akibat lain adalah degradasi lahan/penurunan kualitas lahan yang semakin hari semakin mengkuatirkan.  
Yang sangat membanggakan bagi THL TBPP adalah 
  1) Taman Organik dan Kios Organik Mandiri bisa terwujud atas swadaya murni dari Forum Komunikasi Tenaga Bantu Penyuluh Pertanian (FK- TBPP) Kabupaten Tulungagung, yang beranggotakan 100 personel. Tenaga Bantu Penyuluh Pertanian (TBPP) direkrut oleh Departemen Pertanian dan diperbantukan di seluruh kabupaten dan kota di Indonesia sejak tahun 2007. Hasil dan efek positif dari rekruitmen ini adalah berhasilnya swasembada beras yang sempat terhenti sejak tahun 1984. Hal lain adalah sebagian besar TBPP di seluruh wilayah Indonesia di dalam melakukan pendampingan dan penyuluhan bagi rumah tangga petani mampu memunculkan ide – ide kreatif. Untuk FK – TBPP kabupaten Tulungagung salah satu ide kreatif yang digagas adalah berdirinya Taman Organik dan Kios Organik Mandiri yang beralamat di Jalan Srabah 01/05 Desa Karanganom, Kec. Kauman, Kabupaten Tulungagung. Ide ini digagas sebagai upaya serius membantu petani di kabupaten Tulungagung di dalam memulai kegiatan pertanian organik di tahun 2010 dengan menyelaraskan program Departemen Pertanian  ”GO ORGANIK 2010”
2)      Lahan yang dikelola oleh Taman Organik seluas 11 hektar yang terdiri dari :
          7 hektar tanaman padi
          3 hektar untuk tanaman sayur
          1 hektar untuk kolam ikan
Lahan ini digunakan sebagai lahan percontohan dengan dilengkapi fasilitas Saung/Gazebo untuk pertemuan, Rumah Kompos untuk kegiatan produksi pupuk organik dan area Taman Sayur yang ditata apik.  
Sebagai tahap awal varietas padi yang di budidayakan adalah Ciherang, mengingat varietas ini mudah di dalam perawatan, tidak rentan terhadap hama dan penyakit
Tanaman sayur yang dibudidayakan terdiri dari sayur dataran rendah, seperti kacang panjang, lombok,tomat,bayam, sawi dan sayuran dataran tinggi seperti bawang prei, brokoli, selada dan lain-lain.
Untuk kolam ikan masih difokuskan pada budi daya ikan gurami  dan lele untuk kebutuhan konsumsi.
3)      Berkaitan dengan perawatan kita melibatkan petani sebagai mitra kita. Lahan yang kita kelola dari awal menggunakan sistem kemitraan dan model pendampingan lapang oleh seluruh personel TBPP Tulungagung.  Berkaitan dengan pemupukan, Taman Organik kita lengkapi dengan rumah kompas. Rumah kompas inilah yang mensupply kebutuhan pupuk organik di lahan petani mitra.
Sebagai kegiatan panen perdana cukup menampakkan hasil yang memuaskan, produktivitas padi mencapai 8 ton/hektar. Walaupun pada dasarnya kegiatan pertanian organik pada awalnya memang belum dapat memaksimalkan produktivitas, walaupun pada akhirnya dalam jangka panjang produktivitas panen akan meningkat dan kualitas lahan menjadi baik.   
4)      Tanggapan warga sekitar (Ds. Karanganom, Kec. Kauman) sangat mendukung. Bahkan dari hamparan persawahan yang luas totalnya mencapai 20 hektar di sekitar Taman Organik, ingin bergabung dalam kemitraan.
Mengingat sumber daya modal yang terbatas kita belum bisa memenuhi keinginan warga tani tersebut, kedepan kita berharap dapat mengelola total hamparan di sekitar area Taman Organik dengan kecukupan sumber daya yang kita persiapkan.
5)      Sambutan dari pejabat terkait adalah harapan supaya manajemen Taman Organik dengan Kios Organik Mandiri dapat mengembangkan kegiatannya secara lebih luas di wilayah Tulungagung. Kepala Dinas Pertanian menyatakan siap meng-alokasikan bantuan berupa sarana dan prasarana yang menunjang kegiatan pertanian organik, berupa mesin pengolah pupuk organik. Ketua DPRD Kabupaten Tulungagung, melalui komisi yang membidangi siap menganggarkan alokasi dana APBD untuk kegiatan pertanian organik.
6)      Penghargaan kepada Bupati Tulungagung berkaitan dengan Ketahanan Pangan dan Peng-anekaragaman Pangan, yang diberikan oleh Presiden RI bulan Desember tahun lalu.
Penghargaan tersebut tidak lepas dari partisipasi kelompok tani dan aparat pertanian, termasuk Tenaga Bantu Penyuluh Pertanian. Bahkan teman-teman di TBPP ikut serta di dalam penataan kegiatan di bidang Ketahan Pangan, seperti menyiapkan dan menata Gerai Ketahanan Pangan dan mendokumentasi atau menginventarisir kegiatan-kegiatan yang menunjang ketahanan pangan dan peng-aneka ragaman pangan.
7)      Kita berharap Taman Organik dan Kios Organik Mandiri kedepannya dapat menjadi Pusat Pelatihan Pertanian Organik, yang membantu dan mendampingi petani dalam kegiatan pertanian organik secara gratis serta wahana pelatihan  pemuda untuk lebih mencintai dunia pertanian dengan berbagai jenis usahanya

Sehubungan dengan Kios Organik Mandiri supaya dapat menjadi terminal produk pertanian organik yang menampung dan memasarkan hasil panen petani organik dan menjadi sarana  pembelajaran petani terhadap  manajemen agrobisnis. (Timour/Ket. FK Tulungagung)

BREAKING NEWS THL TBPP 1 Februari 2010

Posted by thl4all in FK THL NASIONAL.
add a comment
Menyikapi perkembangan informasi mengenai THL TBPP maka  kami sampaikan hal-hal sebagai berikut:
  1. Mengenai Pengumuman/ surat Pembaharuan kontrak untuk THL TBPP angkatan 1 yang sampai saat ini belum keluar, kawan-kawan diharapkan tetap bersabar. FK THL TBPP Nasional terus mengupayakan agar pengumuman tersebut segera keluar.
  2. Jaga saldo minimal rekening BRI Anda 3 bulan ke depan jangan sampai Offline. Sehingga nanti ketika proses transfer gaji/ honor tidak mengalami kendala.
  3. Dimohon doa dari kawan-kawan ( Sholat Hajat atau menyesuiakan bagi yang non muslim) terutama satu bulan ke depan, Kawan-kawan FK THL TBPP Nasional dan FK THL TBPP Provinsi se-Indonesia saat ini sedang di Jakarta dalam rangka Rakornas dan serangkaian kegiatan untuk memperjuangkan nasib Kita.

Terima kasih dan tetap semangat!

 
Ketua 
FK THL TBPP Nasional
 
 
DEDY ALFIAN