jump to navigation

STRATEGI UNTUK MENGHADAPI PEKERJAAN BARU SEBAGAI THL-TBPP 13 Maret 2009

Posted by thl4all in Opini THL TBPP.
trackback
Penerimaan THL-TBPP mulai dari angkatan 2007, 2008 dan angkatan 2009 Menggunakan sistem penjaringan semua disiplin ilmu pertanian (Agronomi, Tektan, HPT, THP, Peternakan dll). Artinya Departemen Pertanian (Deptan) sebagai penyelenggara dan penanggungjawab berasumsi, semua peserta yang lulus dalam seleksi memiliki kemampuan sama dan siap pakai ketika THL-TBPP sudah terjun ke lapangan sebagai seorang Penyuluh.

Dalam tahapan Pendidikan dan Pelatihan (DIKLAT), Deptan fokus pada teknik penyuluhan, dan tidak lagi fokus pada ilmu dan teknik pertanian. Bukan menjadi masalah ketika seorang THL-TBPP berasal dari Agronomi/HPT (S1/2), Budidaya Tanaman Pangan/Hortikultura (D3-SLTA) karena masing-masing sudah dibekali dengan disiplin ilmu yang sudah diampu/tempuh. Akan tetapi bagaimana dengan THL yang berasal dari disiplin ilmu Tektan, THP, Perkebunan, Peternakan, dan jurusan lain yang pada waktu lampau sedikit sekali mendapat teori tentang budidaya tanaman pertanian (khususnya pangan).

Berikut Beberapa tips dalam menyusun strategi menjadi THL TBPP:

”setiap pintu memiliki anak kunci masing-masing”
Aspek sosial masyarakat memegang peranan penting, karena hal ini berkaitan dengan bisa diterima atau tidaknya petugas baru dalam penyampaian pengetahuan dan teknologi baru.

Ini artinya sebelum melaksanakan tugas, setidaknya THL-TBPP harus diterima oleh masyarakat baik itu pamong desa (Kepala Desa beserta perangkatnya), Gapoktan, Kelompok Tani, dan masyarakat tani pada khususnya.

Hal ini bisa dicapai ketika THL-TBPP bisa mempelajari secara rinci apa-apa yang menjadi kebiasaan, kegemaran, dan keinginan dari masyarakat yang akan menjadi audiens, sehingga akan didapat bagaimana cara supaya diterima oleh masyarakat.

“Jadikan petani sebagai teman”

Pada kenyataannya, penyuluh lapang sering menganggap petani sebagai objek yang harus dibina. Sehingga jarang terjadi proses interaksi yang mengarah pada istilah “saling memberi dan menerima”.

Proses saling memberi dan menerima bisa terjadi jika petani merasa menjadi teman/mitra bagi petugas lapang, sehingga terjadi hubungan yang harmonis antara petani dengan penyuluhnya.

“Perubahan”

Perubahan yang dimaksud bukan berarti perubahan total/menyeluruh. Akan tetapi lebih mengarah kepada perubahan menuju ke arah yang lebih baik.

Pada umumnya, masyarakat tani menaruh harapan besar kepada kepada petugas baru (THL-TBPP) dan menganggap bahwa petugas tersebut bisa memberi perubahan dan perbaikan.

Akan tetapi, petugas baru harus bisa menyikapi secara bijak terhadap reaksi positif – negatif atas pembinaan yang telah lampau (penyuluh lama). Akan terjadi perbandingan atas apa yang sudah dilakukan oleh penyuluh lama dan apa apa yang sedang dilakukan oleh petugas pengganti (THL-TBPP)

“Mulai dari hal terkecil dan sekarang”

Seringkali karena permintaan atau keinginan, penyuluh lapang selalu fokus atau bahkan terobsesi pada hal-hal yang besar dan melupakan hal-hal yang kecil tapi penting. Hal ini wajar terjadi, karena faktor keinginan untuk berprestasi dari seorang petugas baru. Yang perlu diingat, sesuatu yang besar tidak akan terwujud jika tidak dimulai dari hal-hal yang kecil.

“Kuasai alam bawah sadar manusia, maka apapun yang diberikan akan diterima”

Salah satu masalah yang dihadapi oleh petugas baru adalah masalah penyampaian dan penerimaan atas materi yang disampaikan. Ini wajar, karena sebagian besar masyarakat pedesaan sering menganggap petugas baru adalah orang asing yang kemampuannya belum teruji.

Ketika THL-TBPP bisa menunjukkan bahwa apa yang disampaikan itu penting dan bisa memberi manfaat, maka secara alami audiens akan yakin dan percaya atau bahkan mengikuti anjuran akan penyampaian yang sudah diberikan.

“ Memberi contoh lebih efektif dari mengajak “

Pada setiap penyampaian suatu teknologi baru, sering didapati ketidak pahaman dari petani, atau bahkan penolakan atas teknologi tersebut. Hal ini disebabkan karena petani berpegangan kepada kebiasaan dan pengalaman (empiris) yang di dapat secara turun temurun, dan dalam kurun waktu yang lama.

Memberi contoh bukan hanya secara langsung (frontal), akan tetapi bisa menggunakan perbandingan dengan objek yang sudah melakukan dan berhasil. Dan hasil uji coba sendiri

”Berusaha berbuat baik, hasil akhir adalah dampak”

Secara manusiawi, semua orang berharap akan bisa melakukan sesuatu yang besar dan baik di mata orang lain. Akan tertapi, sering kali orang melupakan perencanaan dan proses bagaimana sesuatu perbuatan akan menghasilkan pengakuan dari orang lain bahwa yang sudah dilakukan memberi manfaat kepada orang lain

Akhirnya penulis teringat pesan yang sudah disampaikan oleh SBY ketika membuka acara jambore dan festifal karya penyuluh 2 (cibodas, bogor).
“berkerja dulu yang baik, tunjukan prestasi, jika memang bagus……………………………….kenapa tidak?”
(dwi a-lamsel)

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: