jump to navigation

Ketika Bunda Hanya Bisa Bercerita… 12 April 2008

Posted by thl4all in Opini THL TBPP.
trackback

Pulang dari pasar, Bunda misah misuh (Marah-marah). Katanya apa-apa sekarang harganya naik. Minyak goreng naik. Beras naik. Telur naik. Terigu naik. Bahkan katanya jajan anak-anak aja naik. Saya jadi ingat kasus harga kedelai yang naik hingga 200 % dulu itu. Indonesia itu lahannya subur. Koes plus bilang, tongkat dilempar jadi tanaman. Tapi kenapa bisa mengalami krisis? Ada isu mengatakan beras sebentar lagi harganya jadi Rp 7.000/kg di tingkat konsumen. Harga setinggi itupun bukan petani yang bakal menikmati. Adalah mereka para mafia investasi dan pengusaha yang jadi semakin kaya. Just for information, rata-rata harga jual GKP (Gabah Kering Panen -yaitu gabah/padi yang bener-bener baru dipanen, belum dikeringkan dan digiling jadi beras-) dari petani itu cuma Rp 1.900/kg. Kalo sudah digiling jadi beras, harganya jadi Rp 2.350/kg. Naahh..jadi kalo beras nantinya dijual Rp 7.000/kg, maka keuntungan sebesar Rp 4.650/kg itu tentu saja diambil pengusaha. Petani tetep aja kere dan ga sejahtera.

Mafia investasi itu kini mulai meninggalkan minyak dan melirik biji-bijian sebagai komoditi investasi. Misalnya jagung, jarak, kedelai bahkan kini gabah pun mulai di dekati. Jagung dilirik karena bisa diolah menjadi bioetanol. Nah karena biji-bijian itu beralih fungsi menjadi bahan bakar, maka harganya meningkat sehingga tak terjangkau oleh petani dan konsumen untuk digunakan sebagai sumber pangan. Dan pada akhirnya terjadilah krisis pangan.

Jika kita mau meniru Brazil yang menerapkan sistem estate untuk pertanaman kedelai, mungkin kita bisa swasembada kedelai, bahkan mampu untuk mengekspornya. Estate itu semacam sistem pertanaman monokultur pada areal yang sangat luas dan dikelola dengan manajemen yang baik, contohnya seperti kelapa sawit, coklat dan karet. Selama ini kedelai kan ditanam hanya sebagai tanaman sela diantara tanaman utama atau ditanam pada lahan sawah tadah hujan saat musim kemarau saja, sehingga kebutuhan kedelai dalam negeri belum (kalo tidak mau dikatan “tidak”) mampu memenuhi permintaan pasar. Di Brazil sana, petani-petani itu mendapat berbagai tunjangan layaknya pegawai kantoran di kota, sehingga arus urbanisasi dapat ditekan dan para pemilik lahan tetap menanami lahannya.

Sebenernya Indonesia juga sudah mulai menanam kedelai demi terciptanya ketahanan pangan. Ada 5 BUMN yang bergerak dalam sektor agro/pertanian melakukan sinergi dengan menandatangani MoU untuk meningkatkan produksi kedelai nasional. Kelima BUMN tersebut adalah Perum Perhutani, PT Pertani, PT Pupuk Kujang, PT Petrokomia Gresik dan PT Sang Hyang Seri. Berita lengkapnya ada disini. Semoga saja program ini bisa berhasil. Semoga pemerintah terus memperhatikan bidang pertanian agar negara ini tidak mengalami krisis pangan. Dan semoga saja lahir kebijakan-kebijakan baru yang memihak kepada petani. (lia-clp)

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: